Tradisi 16 Tahun RW 45 Kayen Sleman: Parcel Lebaran dari Warga untuk Warga
Wijatma T S
16 March 2026
.
Salah satu pemuda dari IMAMIKA '45 mengantarkan bingkisan kepada warga RW 45 Kayen. (PM-ist)
DI SEBUAH sudut kampung di Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, tradisi sederhana namun penuh makna terus hidup dari tahun ke tahun. Selama 16 tahun terakhir, warga RW 45 rutin berbagi kebahagiaan menjelang Lebaran melalui pembagian bingkisan kepada seluruh keluarga di lingkungan mereka.
Bukan sekadar paket sembako, bingkisan itu menjadi simbol kasih sayang antarwarga, yang oleh Ketua RW 45, Sukirman S.Pd, disebut sebagai “Tondo Tresno”, tanda cinta dan terima kasih atas kebersamaan yang terjalin di kampung tersebut.
Pada Minggu, 15 Maret 2026, suasana hangat kembali terasa ketika para pemuda yang tergabung dalam IMAMIKA ’45 (Ikatan Muda Mudi Kayen RW 45) menyusuri gang-gang kampung, mengetuk pintu rumah warga satu per satu. Mereka mengantar langsung parcel Lebaran ke rumah-rumah, disambut senyum dan ucapan terima kasih dari para penerima.
“Bingkisan ini sebagai Tondo Tresno atau ucapan terima kasih atas kerja sama yang baik antara warga dan pengurus RW selama ini. Kami berharap kegiatan ini bisa terus berlangsung dan semakin mempererat kebersamaan,” ujar Sukirman.
Tahun ini, sebanyak 132 paket bingkisan dibagikan kepada seluruh keluarga di RW 45. Setiap paket bernilai sekitar Rp150.000 dan berisi berbagai kebutuhan rumah tangga seperti sirup, minyak goreng, gula pasir, roti kaleng, kecap, saus, mi instan, kopi dan susu sachet, permen hingga camilan.
Menariknya, seluruh proses pengemasan bingkisan dilakukan oleh ibu-ibu pengurus RT dan RW, yang dengan telaten menata setiap isi paket sebelum dibagikan.
Di balik tradisi berbagi ini, terdapat pengelolaan kas warga yang menjadi fondasi kuat kebersamaan di kampung tersebut. Bendahara RW 45, Darisman, menjelaskan bahwa kas RW dikelola dengan prinsip “dari warga, oleh warga, dan untuk warga.”
Sumber dana kas sebagian besar berasal dari jimpitan uang ronda yang dikumpulkan setiap malam serta iuran pembangunan warga. Dengan sistem pengelolaan yang terbuka, laporan pemasukan dan pengeluaran kas selalu disampaikan dalam pertemuan rutin warga setiap malam Selasa Kliwon. Bahkan setiap enam bulan sekali, laporan tertulis diedarkan kepada seluruh warga.
Dari kas itulah berbagai kebutuhan bersama dipenuhi, mulai dari pemeliharaan fasilitas kampung, pembelian inventaris seperti kursi dan tikar, hingga dana sosial ketika ada warga yang sakit atau berduka.
Tradisi kebersamaan warga RW 45 tidak berhenti pada pembagian bingkisan Lebaran. Setiap 2 Syawal, warga juga menggelar Syawalan bersama di depan pos ronda, tepat di perempatan kampung. Tanpa gedung megah atau acara formal, warga berkumpul sejak pagi, membawa buah-buahan, minuman, dan makanan ringan untuk dinikmati bersama.
Balita, anak-anak, hingga para lansia duduk bercengkerama dalam satu suasana kekeluargaan yang hangat.
Bagi warga RW 45, kebersamaan tidak diukur dari kemewahan acara, melainkan dari rasa saling peduli dan kebiasaan berbagi yang terus dirawat.
Tradisi yang telah berlangsung lebih dari satu setengah dekade ini pun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain, bahwa harmoni sosial bisa tumbuh dari langkah kecil: saling membantu, saling peduli, dan berbagi kebahagiaan di lingkungan sendiri.
Di kampung kecil itu, Lebaran bukan hanya tentang hari raya, tetapi tentang merawat rasa memiliki satu sama lain.