BEI DIY Kembangkan Model Literasi Keuangan Terpadu dan Program Edu Wisata
Muh Sugiono
28 November 2025
.
Kepala BEI KP DIY Irfan Noor Riza (PM-Muh Sugiono)
Patmamedia.com (YOGYAKARTA) — Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Yogyakarta menutup akhir November dengan capaian signifikan dalam penguatan literasi dan inklusi pasar modal. Selain pertumbuhan investor baru yang terus meningkat seiring kenaikan IHSG ke rekor tertinggi, rangkaian edukasi dan kolaborasi kampus menjadi motor utama perkembangan pasar modal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Perkembangan itu mengemuka setelah pelaksanaan KreartIPO Workshop Go Public bersama pelaku ekonomi kreatif dan penyelenggaraan Road to GI BEI Award 2025 bagi kampus serta sekolah menengah yang aktif mengelola Galeri Investasi. Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa peran edukasi menjadi fondasi paling relevan dalam memperluas akses masyarakat terhadap pasar modal.
Kepala BEI KP DIY, Irfan Noor Riza menjelaskan, penguatan literasi tidak lagi hanya mengandalkan Galeri Investasi di perguruan tinggi. Dengan bergabungnya 223 lembaga dalam Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan DIY, mulai dari OJK, Bank Indonesia, perusahaan sekuritas, leasing hingga Pegadaian,kampus kini didorong mengembangkan pusat literasi keuangan terpadu.
"Melalui kolaborasi ini, setiap kampus dapat memanfaatkan data keuangan untuk penelitian, KKN tematik, hingga membentuk galeri satelit di desa-desa binaan yang memperluas jangkauan edukasi keuangan sampai tingkat akar rumput,"ujarnya dalam kegiatan Ngobrol Santai Bareng Media di Silol Kopi & Eatery, Jumat (28/11/2025)
Kekuatan kolaborasi itu juga mulai menjawab tantangan inkubasi bisnis di kampus. Selama ini, banyak inkubator hanya berhenti pada pendampingan teori, sementara UMKM kesulitan naik kelas karena persoalan pendanaan. BEI menilai kehadiran industri jasa keuangan melalui pusat literasi terpadu membuat proses inkubasi lebih lengkap, sebab pelaku usaha dapat langsung mempelajari jalur pembiayaan, termasuk peluang menuju pasar modal maupun skema pendanaan alternatif seperti wakaf mikro dan securities crowdfunding.
Sinergi yang semakin luas ini bahkan melahirkan inisiatif baru berupa program edu wisata. Irfan Noor Riza menyebutkan bahwa aktivitas edukasi di kampus-kampus tanpa disadari turut mengangkat pariwisata DIY. Banyak kampus yang mengemas kunjungan edukasi pasar modal menjadi paket wisata pembelajaran sehingga pemda meminta BEI membagikan model ini sebagai praktik baik. “Kami sampai diminta sharing oleh pemerintah daerah, karena kampus mengembangkan edu wisata dan ini ikut mendorong pariwisata,” ujarnya.
Ilustrasi: Muh Sugiono/AI
Inovasi berikutnya berkaitan dengan rencana kolaborasi edukasi calon pekerja migran Indonesia (PMI). Melalui pemanfaatan skema KUR PMI yang penyalurannya belum maksimal, BEI bersama pemerintah daerah berupaya memberikan pembekalan literasi keuangan sebelum pemberangkatan. Program tersebut diharapkan mampu menekan risiko salah kelola keuangan yang selama ini banyak dialami PMI. Harapannya, kata Irfan, ketika pulang mereka sudah siap membuka usaha dan tidak mengulangi siklus kerentanan finansial.
Selain peluang ke luar negeri, BEI juga menyoroti kebutuhan tenaga kerja strategis di dalam negeri, terutama di sektor tambang Kalimantan yang memerlukan ratusan operator alat berat. Minimnya standardisasi dan pendampingan membuat rekrutmen selama ini berlangsung tidak terstruktur. Melalui kolaborasi yang sama, BEI menilai kampus bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk mengembangkan program “kuliah langsung kerja”, sambil memastikan calon tenaga kerja memiliki literasi keuangan dasar sebelum masuk ke industri.
Seiring berkembangnya kolaborasi itu, beberapa pemerintah daerah pun mulai membuka beasiswa bagi lulusan SMA/SMK yang tidak mampu melanjutkan pendidikan. BEI menilai integrasi program beasiswa dengan inkubasi kampus dan pelatihan keuangan dapat menjadi rangkaian yang memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi pasar kerja sekaligus meningkatkan kecakapan finansial mereka.
Sementara itu, BEI Yogyakarta juga terus menunjukkan tren pertumbuhan investor yang selaras dengan kondisi nasional. Hingga Oktober 2025, Indonesia mencatat lebih dari 19,15 juta investor pasar modal, dengan lebih dari 8 juta di antaranya aktif bertransaksi. DIY sendiri menambah lebih dari 4,28 juta investor baru sepanjang 2025, menandakan kuatnya minat generasi muda dalam memanfaatkan pasar modal sebagai sarana investasi.
Dalam berbagai kesempatan, BEI Yogyakarta menyampaikan bahwa perluasan literasi keuangan masih menjadi kunci utama agar pasar modal tetap sehat dan inklusif. Irfan menegaskan komitmen tersebut dengan mengajak masyarakat terus memanfaatkan fasilitas edukasi yang tersedia. “Semakin banyak yang melek keuangan, maka ekosistem pasar modal akan tumbuh lebih sehat dan kompetitif,” ujarnya.***