.
Atlet giat berlatih di Sekolah tenis meja Genesis Nanda Table Tennis Center (NTC). (PM-dok. NTC)
Patmamedia.com (YOGYAKARTA) – Sekolah tenis meja Genesis Nanda Table Tennis Center (NTC) terus menunjukkan eksistensinya sebagai pusat pembinaan atlet muda berbakat di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tak hanya menampung peserta dari dalam kota, tempat latihan ini juga menjadi rujukan atlet muda dari Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, hingga Sleman.
Pelatih utama Genesis NTC, Dimas Purnananda Anugrah yang akrab disapa Nanda menjelaskan, tempat tersebut memang difokuskan sebagai sekolah tenis meja dengan sistem pembinaan berjenjang. Kelas yang tersedia mulai dari kelas atlet hingga kelas penghobi.
“Kalau di sini itu sekolah tenis meja. Karena di sini banyak anak-anak dari luar daerah juga,” ujarnya, Rabu (8/4/26).
Menurut Nanda, program latihan untuk kelas atlet dilakukan secara intensif setiap hari kerja, yakni Senin hingga Jumat pukul 16.00 hingga 19.00 WIB.
Sementara itu, kelas reguler atau penghobi memiliki jadwal lebih fleksibel dengan durasi latihan yang lebih singkat.
Genesis NTC juga didukung fasilitas cukup lengkap, seperti tujuh meja tenis, robot latihan, ruang ibadah, dan kamar mandi.
Fasilitas tersebut dirancang untuk menunjang peningkatan teknik dan performa atlet secara maksimal.
“Untuk kelas atlet itu lebih terfokus. Sudah ada fasilitas robot dan latihan setiap hari,” katanya.
Dari pembinaan tersebut, Genesis NTC telah melahirkan sejumlah atlet berprestasi. Salah satunya Jason, atlet muda yang berhasil menjuarai Pekan Olahraga Daerah (Porda) 2025 serta pernah memperkuat tim nasional U-16 pada ajang internasional di Bahrain.
Jason mengungkapkan dirinya mulai berlatih tenis meja sejak usia dini. Awalnya, ia belajar dari orang tuanya sebelum akhirnya bergabung dengan Genesis NTC untuk memperbaiki teknik dasar.
“Pertama itu diajari papa, terus pas kelas empat baru ke Mas Nanda,” ucapnya.
Ia juga menceritakan tantangan dalam membagi waktu antara sekolah dan latihan.
Dengan jadwal sekolah yang padat hingga sore hari, Jason harus langsung menuju tempat latihan tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.
“Biasanya habis sekolah langsung latihan, kadang naik transportasi online ke sini,” ujarnya.
Meski demikian, Jason tetap mampu menjaga prestasi akademik sekaligus olahraga.
Ia bahkan berencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi olahraga.
Di sisi lain, Nanda berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah terhadap pembinaan atlet daerah, khususnya tenis meja.
Ia menilai potensi atlet di Yogyakarta sangat besar jika didukung fasilitas dan program yang memadai.
“Harapannya anak-anak Jogja bisa berprestasi sampai nasional bahkan internasional, tapi memang masih kurang perhatian,” katanya.
Dengan jumlah peserta sekitar 15 hingga 20 orang, Genesis NTC optimistis dapat terus mencetak atlet potensial yang mampu bersaing di tingkat lebih tinggi sekaligus menjadi wadah pembinaan tenis meja berkualitas di Yogyakarta. (*)