Platinum

Keripik Jamur Tiram mampu saingi cemilan kekinian di Waralaba

03 January 2022
.
Keripik Jamur Tiram mampu saingi cemilan kekinian di Waralaba

Keripik Jamur Tiram mampu saingi cemilan kekinian di Waralaba

Sleman-Paham betul dengan cara mengatasi kerugian saat bergelut pada kegiatan bertani jamur, membuat Endan tak ingin merasakan rugi kedua kali. Berbekal pada pengalaman itu, kini ia lebih memilih untuk menjadi pengolah jamur tiram. 

Mengolah jamur tiram menjadi cemilan seperti keripik sejatinya telah dimulai 10 tahun lalu. Memulai dengan usaha kecil-kecilan, yakni mengemas keripik jamur dengan harga jual dua ribu rupiah  dan dititipkan di warung atau penjual angkringan, dilakoni Endan untuk mengenalkan cemilan ini kepada masyarakat.
Meski pangsa pasar masih cukup sempit, namun usahanya ini mulai dikenal oleh sekitar. Beberapa tetangga dan pelanggan warung atau angkringan mulai memesan cemilan ini dalam jumlah lebih besar, meski masih sebatas  untuk suguhan di meja tamu saat lebaran, atau sebagai oleh- oleh untuk kerabat.

Jika bagi sebagian orang, pandemi CoVID 19 menjadi titik terendah kehidupan dalam menjalankan usaha, bagi pria asal Jawa Barat ini, pandemi justru membuat usahanya berkibar. Bekal pelatihan yang difasilitasi oleh pemerintah dalam hal pengemasan dan keikutsertaannya dalam beberapa pameran UMKM, mendorong Endan Fritrianudin untuk memperbaiki kualitas kemasan. 

Menggunakan merek dagang Ariesto yang dalam bahasa Yunani berarti ' yang terbaik', Endan berharap usaha yang dilakoninya ini adalah titik balik dari perjalanannya bergelut di bidang pertanian dan pengolahan jamur. 
Dalam 1 bulan, setidaknya 240 kilogram jamur ditanganinya menjadi keripik. Ia pun telah berhasil menjajarkan cemilan ini dengan banyak jenis cemilan di gerai Waralaba. 800 kantong cemilan bermerek Ariesto kini dapat ditemukan di 8 gerai waralaba wilayah Sleman Barat.

Meski jumlah produksi jamur tiram basah di wilayah Sleman cukup tinggi, namun diakui Endan, ia kerap menghadapi kesulitan mendapatkan bahan baku. Tingginya permintaan pasar baik untuk restoran dan rumah tangga, terkadang terhalang oleh masa pergantian baglog yang harus dilakukan para petani jamur. Hal ini juga menjadi hambatan bagi para pengolah jamur yang ikut tak kebagian hasil panen. 

"Usaha ini saya pilih karena pengolahannya  cukup mudah, sementara juga bisa bantu ekonomi petani jamur dan menjadi makanan alternatif selain disayur", papar Endan.

Untuk mendapatkan 1 kilogram keripik jamur, Endan setidaknya membutuhkan 3 kilogram jamur tiram basah. Sementara, hasil 1 kilogram jamur nantinya akan dikemas dalam standing pouch berukuran 90gram dan menjadi 11 kemasan siap jual. 

Dijual dengan harga 15 ribu rupiah per pack,  tentunya sebanding dengan proses pengolahan yang memakan waktu cukup lama. Setelah disuwir menjadi potongan-potongan kecil, jamur tiram selanjutnya direbus sebagai bagian dari sterilisasi.Untuk  mendapatkan jamur yang benar-benar krispi, usai direbus, jamur akan ditiriskan dengan mesin spinner.
Menggunakan bumbu racikan khusus, Endan juga harus memastikan agar rasa original dari jamur tiram tidak tertutup oleh bumbu. 
Langkah berlanjut pada penepungan dan proses penggorengan yang dilakukan 2 kali.
Sebelum dikemas, jamur goreng akan dikeringkan kembali di mesin spinner untuk mendapatkan jamur yang benar-benar kering tanpa minyak. Proses ini juga akan sangat berpengaruh pada kerenyahan dan keawetan jamur keripik dalam kemasan.

"Dalam satu bulan ada 800 pack harus kita setor ke waralaba, belum termasuk toko oleh-oleh, hotel, restoran, dan ruang UMKM,"jelas Endan lagi.

Agar usaha pengolahan jamur tiram ini tetap berlangsung, Endan berharap ada campur tangan pemerintah dalam usaha menstabilkan harga bahan pendukung seperti minyak goreng yang harganya sangat tinggi saat ini. Lebih lanjut, ia juga berharap ada perhatian dari pemerintah dalam merangkul petani jamur sehingga keberadaan bahan baku selalu tersedia dan mampu menopang kebutuhan lokal maupun luar kota. 

Dilarang

Baca Juga