Platinum

Pemkab Sleman Pikirkan Skema Pembiayaan Pengembangan Alat Deteksi MBG Karya Siswa Turi

Muh Sugiono
06 August 2026
.
Pemkab Sleman Pikirkan Skema Pembiayaan Pengembangan Alat Deteksi MBG Karya Siswa Turi

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa saat memberikan respon positifnya atas alat deteksi MBG karya siswa SMPN 1 Turi, di kantornya, Kamis 6 Agustus 2026. (PM- Muh Sugiono)

Patmamedia.com (SLEMAN) – Pemerintah Kabupaten Sleman membuka peluang dukungan terhadap pengembangan alat pendeteksi makanan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) karya dua siswa SMPN 1 Turi. Pemkab akan melihat lebih jauh hasil penelitian dan pengujian alat tersebut, termasuk kemungkinan menyiapkan skema pembiayaan untuk pengembangannya

Alat yang diciptakan siswa kelas 9B, Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho, sebelumnya mendapat apresiasi dari Komisi D DPRD Sleman. Kedua siswa tersebut melakukan riset selama sekitar lima bulan dan menghabiskan biaya sekitar Rp500.000 yang diperoleh dari urunan siswa bersangkutan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, S.Sos., M.M., mengatakan inovasi tersebut merupakan contoh positif pembelajaran yang mendorong siswa untuk kreatif dan berani mencari solusi terhadap persoalan di sekitarnya.

“Anak-anak kita sekarang didorong untuk lebih kreatif dan inovatif dengan melandaskan pada teori yang mereka pelajari. Ini menjadi praktik baik yang perlu kita apresiasi,” kata Mustadi saat dikonfirmasi Patmamedia.com di kantornya, Kamis (6/8/2026)

Menurutnya, karya tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Namun, sebelum diarahkan untuk digunakan di sekolah lain, diperlukan pengujian yang lebih komprehensif untuk memastikan tingkat akurasi dan kelayakannya.

“Kalau nanti hasil uji laboratorium menyatakan layak, tentu bisa kita pikirkan pengembangannya. Ini harus lintas sektor karena ada aspek penelitian, kelayakan, pengembangan sampai kemungkinan penerapannya,” ujarnya.

Pemkab Cari Skema Dukungan

Mustadi mengatakan persoalan pembiayaan juga menjadi bagian yang perlu dipikirkan. Sebelumnya, pembuatan alat tersebut masih mengandalkan urunan anak didik. Untuk pengembangan berikutnya, Pemkab akan melihat kemungkinan sumber pembiayaan yang sesuai dengan ketentuan.

“Untuk keberlanjutan nanti kita lihat skemanya. Apakah memungkinkan menggunakan dana BOS atau ada skema lain. Ini harus kita lihat aturan dan kebutuhannya,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan karya siswa tidak hanya membutuhkan dukungan pembiayaan, tetapi juga pendampingan penelitian dan pengujian. Karena itu, jika alat tersebut dinilai layak, pengembangannya dapat melibatkan sejumlah pihak, termasuk Bappeda dari sisi perencanaan dan inovasi.

Danang: Pemerintah Perlu Hadir Mencari Jalan

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas Abyan dan Pradipta. Menurutnya, karya tersebut menunjukkan cara pandang yang positif dari pelajar dalam menyikapi persoalan MBG.

Ketika banyak pihak sibuk mengkritisi kasus keracunan MBG, kata Danang, kedua siswa justru mencoba mencari solusi melalui penelitian.

“Saya sangat bangga. Ketika banyak orang sibuk menghujat karena adanya kasus keracunan MBG, anak-anak ini justru diam-diam mencoba mencari solusi dengan menciptakan alat detektor MBG,” kata Danang saat dikonfirmasi di kantornya di hari yahg sama.

Danang menilai karya tersebut tidak cukup hanya diapresiasi. Pemerintah perlu hadir untuk membantu mencari jalan agar inovasi tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih luas.

“Ini karya yang luar biasa. Tidak cukup hanya kita apresiasi, tetapi kita harus hadir untuk bersama-sama mencari cara pemecahan masalahnya,” ujarnya.

Meski demikian, Danang mengingatkan agar proses pengembangan tetap dilakukan secara hati-hati. Sebuah inovasi harus memberikan manfaat sekaligus mampu meminimalkan risiko ketika nantinya digunakan masyarakat.

Menurutnya, alat karya siswa tersebut saat ini masih merupakan salah satu indikator dalam mendeteksi kondisi makanan. Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah indikator yang digunakan sudah memadai atau masih perlu ditambah.

“Yang penting inovasi itu benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan risikonya bisa diminimalkan. Ini kan salah satu indikator, masih perlu diteliti apakah sudah cukup atau masih ada hal lain yang harus diperiksa,” katanya.

Menjaga Semangat Inovasi Siswa

Hingga kini Pemkab Sleman belum menetapkan langkah konkret untuk menerapkan alat tersebut di sekolah-sekolah. Pemerintah masih menunggu hasil pengujian lebih lanjut sebagai dasar menentukan bentuk dukungan dan pengembangannya.

Namun, baik Mustadi maupun Danang menilai karya tersebut menunjukkan potensi yang patut mendapat ruang. Pemerintah daerah berharap semangat penelitian dan kreativitas seperti yang ditunjukkan Abyan dan Pradipta terus tumbuh di lingkungan sekolah.

Bagi Pemkab Sleman, persoalan utama bukan sekadar apakah alat tersebut nantinya dapat digunakan secara luas, tetapi bagaimana memastikan sebuah karya siswa mendapatkan kesempatan untuk diuji, disempurnakan, dan dikembangkan secara tepat.

Danang tidak ingin  inovasi dua pelajar SMPN 1 Turi tersebut hanya berhenti sebagai proyek penelitian di sekolah. Ia berharap karya itu dapat sekaligus menjadi pintu masuk untuk mendorong budaya riset dan inovasi yang lebih kuat di kalangan pelajar Sleman/***

Dilarang

Baca Juga