.
Buku Kumpulan Puisi Perempuan adalah Ayat-ayat Berjalan. (grafis: Muh Sugiono)
KUMPULAN puisi "Perempuan adalah Ayat-ayat Berjalan" karya Ani Martanti, S.T menarik dibaca bukan semata karena pengarangnya seorang politikus perempuan yang berada di puncak struktur kekuasaan lokal, melainkan karena buku ini menempatkan pengalaman personal perempuan sebagai teks utama yang menuntut dibaca ulang—baik secara estetik maupun ideologis.
Dalam tradisi sastra Indonesia, puisi yang lahir dari pengalaman autobiografis kerap menghadapi dua risiko: terjebak pada pengakuan sentimental, atau kehilangan jarak estetik. Buku ini berjalan di batas tipis itu. Namun pada banyak bagian, Ani Martanti berhasil mengolah pengalaman personalnya menjadi pernyataan kolektif tentang luka batin perempuan.
Tema luka menjadi poros utama buku ini. Puisi-puisi seperti Luka Tak Terlihat, Kepada Luka Batin, dan Berdamai dengan Luka Batin di Masa Lalu membangun narasi bahwa luka bukan sekadar peristiwa, melainkan kondisi eksistensial. Luka hadir sebagai “bahasa rahasia”, sesuatu yang tak kasatmata tetapi membentuk identitas subjek liris. Di sini, luka tidak dipertontonkan sebagai ratapan, melainkan sebagai ruang refleksi yang terus dinegosiasikan.
Dari sisi diksi, Ani memilih jalur bahasa yang relatif langsung dan komunikatif. Pilihan ini menjauhkan puisinya dari permainan simbolik yang kompleks. Secara estetik, hal tersebut membuat puisinya mudah diakses, tetapi sekaligus membatasi kemungkinan pembacaan yang lebih berlapis. Metafora yang digunakan cenderung konvensional—luka, cahaya, angin, langkah—namun konsistensinya menciptakan semacam koherensi tematik yang kuat.
Yang menarik, subjek “aku” dalam puisi-puisi ini tidak pernah benar-benar tercerabut dari identitas sosialnya. Ia adalah perempuan, ibu, anak, sekaligus warga yang sadar akan ruang publik. Puisi-puisi tentang ibu dan relasi antarperempuan menjadi penanda penting bahwa buku ini bergerak dari pengalaman individual menuju kesadaran relasional. Dalam konteks ini, puisi menjadi medium politik dalam arti paling mendasar: ia menyuarakan pengalaman yang kerap disingkirkan dari bahasa resmi kekuasaan.
Judul buku Perempuan adalah Ayat-ayat Berjalan mengandung pernyataan poetik sekaligus epistemologis. Perempuan diposisikan sebagai teks hidup—selalu bergerak, berubah, dan tak pernah selesai ditafsirkan. Namun, pernyataan ini juga memikul beban besar. Dalam beberapa puisi, gagasan tersebut belum sepenuhnya dieksplorasi secara metaforis; ia lebih sering hadir sebagai pernyataan langsung daripada temuan puitik. Di sinilah ruang kritik muncul: buku ini lebih kuat sebagai kesaksian ketimbang sebagai eksperimen bahasa.
Meski demikian, justru pada kesederhanaan itulah letak keberanian buku ini. Ani tidak menyembunyikan emosinya di balik kerumitan stilistika. Ia memilih kejujuran sebagai sikap estetik. Dalam konteks sastra perempuan, pilihan ini dapat dibaca sebagai upaya melawan tradisi maskulin yang sering mengukur “kedalaman” puisi dari kompleksitas simbol semata.
Peluncuran buku ini yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu ke-97 di Pendopo DPRD Sleman mempertegas posisi buku ini di persimpangan sastra dan ruang publik. Puisi tidak berdiri sebagai artefak estetika yang steril, tetapi sebagai bagian dari praktik kebudayaan yang ingin memulihkan dan memberdayakan.
Perempuan adalah Ayat-ayat Berjalan mungkin tidak menawarkan kebaruan radikal dalam teknik puisi, tetapi ia menyumbang sesuatu yang kerap dilupakan: keberanian menjadikan pengalaman perempuan—dengan segala luka dan keteguhannya—sebagai pusat narasi. Buku ini layak dibaca bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi sebagai dokumen batin yang mencatat bagaimana seorang perempuan menegosiasikan luka, identitas, dan kuasa dalam satu tarikan napas yang jujur.***