.
Anak didik dan pamong SPS Asparagus Kentungan bersama sang dalang. (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) — Suasana penuh keceriaan dan kebersamaan terasa dalam kegiatan Syawalan Bersama yang digelar SPS Asparagus Kentungan, Senin (6/4/2026).
Mengusung tema "Satu Hati dalam Harmoni", kegiatan ini menghadirkan pagelaran wayang sebagai sarana mempererat kebersamaan sekaligus menanamkan nilai keberagaman kepada anak sejak dini.
Acara yang berlangsung mulai pukul 08.30 WIB di Gedung SPS Asparagus Kentungan, Condongcatur, dihadiri anak didik, tenaga kependidikan, serta wali murid. Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum Syawalan, tetapi juga menyambut perayaan Paskah dan Hari Nyepi.
Kepala SPS Asparagus Kentungan, Reni Lestari menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara sekolah dan komite dalam mendampingi tumbuh kembang anak agar menjadi generasi berkarakter Pancasila.
"Satu Hati dalam Harmoni dimaksudkan untuk menyatukan semua perbedaan dalam satu kegiatan, yaitu nanggap wayang dengan menghadirkan dalang muda dari Kentungan," jelasnya.
Pagelaran wayang menghadirkan dalang muda Ki Anang Suwondo yang menampilkan kisah tentang indahnya keberagaman melalui tokoh Punokawan seperti Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng. Karakter-karakter tersebut diperkenalkan sebagai simbol kebijaksanaan, kecerdikan, kesederhanaan, dan kebersamaan.
Menurut Reni, kegiatan ini menjadi cara efektif membentuk karakter anak sejak dini sekaligus mengenalkan budaya luhur bangsa.
Anak-anak juga diberi kesempatan berinteraksi langsung dengan wayang, mengenal tokoh, serta memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
"Anak-anak bisa melihat langsung bentuk wayang, mengenal karakter Punokawan, dan memahami nilai kebersamaan dalam keberagaman," tambahnya.
Reni menambahkan, SPS Asparagus Kentungan sebagai lembaga PAUD di wilayah Condongcatur memiliki moto Santun, Rukun, Mandiri, dan Kebhinekaan. Hal ini selaras dengan kondisi masyarakat Kentungan yang beragam dari segi suku, agama, dan bahasa.
"Kami ingin anak-anak tumbuh dengan memahami perbedaan sebagai kekuatan, sehingga tercipta generasi Indonesia hebat yang berkarakter Pancasila," pungkasnya. (atm)*